Memoir About Me and Oppa

img_20161029_183837

Memoir About Me and Oppa

 

Title                 : Memoir About Me and Oppa

Author             : J.A

Cast                 : Seo Joohyun, Jung Yonghwa and Cho Kyuhyun

Genre              : Find it by yourself 🙂

Length             : Oneshoot

Cover               : L~Cho

HAPPY READING ~~~

 

MEMOIR ABOUT ME AND OPPA

 

Hari dimana sepasang kekasih mengikat janji suci di hadapan Tuhan adalah hari yang sangat istimewa, dimana hubungan yang sesungguhnya telah di akui Tuhan dan Negara untuk sehidup semati. Ya, hubungan tersebut akan diakui tepat saat kalimat ‘Ya Saya Bersedia’ telah terucap dari kedua belah pihak. Lalu, apa hubungan yang hanya sebatas sahabat kecil tidak pernah diakui? Disini, aku ,, Seo Joohyun maka akan mencoba mengulang cerita lama tentang kisah kami, kisahku dan kisah sahabat kecilku yang kini akan membuka lembaran baru di hidupnya. Ya, undangannya baru saja tiba tiga hari yang lalu. Aku hanya tersenyum dan tak henti mengucapkan berbagai doa yang terbaik untuknya, Oppa, semoga kau berbahagia. Bahagiakan dia sebagaimana kau membuatku bahagia dulu – ucap Seohyun dalam hati sambil tersenyum.

 

Mengingat undangan darinya, aku bawa tubuhku untuk berlari menuju ke kamarku. Kini di hadapanku sudah ada album foto kenangan kami, ku usap pelan tumpukan debu yang menutupi bagian covernya. Kegiatan yang menumpuk karena jadwal dari tempatku bekerja yang sulit mendapatkan libur mengingat pekerjaanku cukup penting membuatku tak sempat untuk sekedar membersihkan banyaknya debu yang menempel, dan bahkan aku sendiri tidak ingat kapan terakhir kali aku membukanya.

 

Dihalaman pertama, aku bisa melihat foto dengan tema ‘selfie pertama’, yang aku ingat saat itu aku baru saja menerima hadiah baru dari kedua orang tuaku karena nilai tinggi saat kenaikan kelas. Aku mendapatkan smartphone yang pada masanya merupakan model terbaru, saat itu aku menduduki tingkat empat di sekolah dasarku sedangkan oppa saat itu sudah berada di tingkat enam.

 

Flashback

“Oppa, lihat aku dapat hadiah smartphone dari eomma dan appa” ucapku riang memberitahu oppa. Kami sekolah di sekolahan yang berbeda, saat pulang sekolah adalah saat yang paling menyenangkan karena sesampainya di rumah oppa pasti sudah menunggu di halaman rumah untuk sekedar mengajakku bermain.

 

“Kau dapat hadiah appa, Hyun?” tanyanya antusias dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Keringat sudah membasahi dahinya, sepertinya ia sedikit berlari untuk sampai lebih cepat kesini.

 

“Ini, aku dapat smartphone. Sama seperti milik oppa, hanya beda casenya saja hehe” ucapku sambil terkekeh memamerkan smartphone berwarna putih yang baru saja aku terima.

 

“Wah, iya. Ini sama seperti milik oppa, hanya saja punya oppa yang warnanya hitam” jelasnya sambil melihat-lihat smartphone milikku dan responku hanya mengangguk mengiyakan karena aku paham betul dengan smartphone milik oppa.

 

“Isinya masih kosong, belum ada wallpapernya. Sini biar oppa ajarkan bagaimana caranya, kau pasti belum banyak tahu kan?” lanjutnya sambil tersenyum dan tentu jawabanku hanya mengangguk mengiyakan karena aku sendiripun belum paham banyak tentang smartphone itu. Setelahnya oppa mengajakku untuk duduk di teras halaman rumah besar ku dan menepati janjinya untuk mengajarkanku banyak hal tentang smartphone. Disitu pula foto selfie pertama kami diambil, dengan tema tembok berwarna putih, oppa mengajakku untuk bersebelahan lebih dekat dan tersenyum bersama menghadap ke kamera smartphoneku,setelahnya aku hanya tertawa karena sukses mengambil foto pertama kami dan oppa tersenyum sembari mengacak rambutku pelan, ya itu merupakan kebiasaannya saat gemas dengan tingkahku.

Flashback off

 

Lembaran pertama sudah terlewat, kini sudah aku sudah di suguhkan dengan lembaran selanjutnya bertemakan ‘U and I’ setelahnya kekehan mengalun begitu saja dari bibir mungilku. Ya, bagaimana tidak di umur yang di katakan masih kecil kami sudah memiliki panggilan khusus untuk satu sama lain.

 

Flashback

“Hyunie, kau darimana saja eoh? Oppa kerumahmu tadi dan eommanim bilang kau sudah pergi main sejak tadi” ucapnya spontan saat berhasil menemukanku di taman dekat perumahan yang kami tinggali.

 

“Ini, aku sedang bermain pasir disini. Eunmi mengajakku lebih dulu, aku pikir oppa tidak main hari ini karena sedang ada les” ujarku polos dengan mata bulatku jangan lupa sedikit keringat sudah mengucur pelan di dahiku mengingat siang hari kota Seoul cukup terik hari ini.

 

“Disini panas, ayo pindah. Oppa mau bicara” ujarnya lalu menarik lengan kecilku untuk sedikit berteduh di pohon besar yang masih diarea taman dimana aku bermain.

 

“Oppa mau bicara apa?” tanyaku sambil membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di telapak tangan kecilku.

 

“Hyun, nanti kalau ingin memanggil satu sama lain, panggil saja U *baca: yu (kamu) yang artinya kamu atau I *baca : ai (Saya). Itu khusus panggilan kita, bagaimana?” ucapnya memberi saran sambil menatapku.

 

“Oppa tau dari mana bahasa panggilan seperti itu” tanyaku tak paham sambil menatapnya balik.

 

“Dari teman sekelas, di kelasku mereka berbondong-bondong untuk memanggil satu sama lain dengan panggilan itu. Tapi tidak untuk aku sendiri, aku tidak mau di panggil seperti itu oleh teman. Maunya bersamamu saja, otte?” setujunya meminta persetujuan balik dariku.

 

“Yasudah, aku sih terserah oppa” jawabku setelahnya sambil memainkan helaian rumput yang sempat aku cabut di tempatku duduk sekarang.

 

“Jadi, U (yu) mau bermain pasir lagi bersama Eunmi?” tanyanya memulai panggilan khusus kami untuk pertama kalinya.

 

“Anhi, I (ai) mau pulang saja. Rambutku sudah lepek, gerah” jawabku sebelum akhirnya berjalan mendahuluinya untuk pulang.

 

“U (yu) tunggu I (ai), tunggu oppa” langkahnya lebih lebar untuk menyusul langkah kecilku, ya tentu oppa jauh lebih tinggi dari pada aku sehingga langkahnya jauh lebih panjang sehingga dapat menyusulku.

Flashback off

 

Astaga, jika mengingat kenangan kecil kami. Ada rasa senang, sedih bahkan malu pun turut menyertai karena berpikir itu terlalu menjijikan jika mengingat untuk melakukannya lagi saat ini.

 

Di lembaran berikutnya aku sudah melihat tema foto kami sambil memakan ice cream sehabis pulang dari les. Kami tidak berduaan saja, ada Minsoo juga pada saat itu. Aku, oppa dan Minsoo adalah teman untuk pergi dan pulang les bersama. Ketika berpikir oppa akan sendirian dan aku bermain bersama Minsoo, itu salah besar karena nyatanya Minsoo lah yang sendirian, dan oppa bermain bersamaku. Minsoo jangan marah padaku dan oppa – gumamku pelan dalam hati.

 

Flashback

“Hyun, kita makan ice cream yuk!” ajak oppa antusias saat kami melewati toko ice cream sehabis pulang les.

 

“Aku tidak cukup punya uang untuk beli ice cream oppa” jujurku mengingat ongkos yang di berikan eomma tidaklah cukup untuk makan ice cream di tempat yang cukup mewah bagi anak seusia kami.

 

“Iya, uang kita sama-sama tidak cukup untuk makan ice cream disana” ujar Minsoo menyetujui perkataanku.

 

“Kalau begitu, kita harus menggabungkan uang kita saja agar tetap bisa memakan ice cream disana” ujarnya memberi ide lain agar kami tetap bisa makan ice cream meskipun uang kami tidak cukup. Oppa jauh lebih tua daripada aku dan Minsoo, sudah jadi barang tetap kalau ia yang memimpin penjelajahan kami setiap harinya, termasuk kali ini penjelajahan makan ice cream tanpa orang tua adalah hal yang baru bagiku namun menjadi pengalaman pertamaku saat oppa mewujudkannya.

 

“Karena harga satu ice cream cup disini 6,000 won dan harga satu conenya 3,000 won. Jadi Hyunnie memberikan uang pada oppa 3,000 won, dan Minsoo juga sama. Jadikan uang kita ada 9,000 won. Nah kita jadi bisa dapat 2 ice cream sekaligus. Satu cup dan satu cone, otte?” ucapnya memberi saran sambil memegang daftar menu yang telah disediakan oleh pramuniaga.

 

“Berarti nanti akan ada yang tidak dapat ice cream dong?” tanya Minsoo kurang paham, sejujurnya aku pun sama dan lebih memilih menunggu jawaban selanjutnya saja.

 

“Tidak, kita semua dapat ice cream. Hyunie dan Minsoo dapat satu cup ice cream sedangkan oppa dapat ice cream conenya” jelasnya memberitahu, dan bisa dilihat Minsoo hanya manggut-manggut paham.

 

“Kalau begitu sih enak sekali oppa, aku dan Minsoo berdua sedangkan oppa satu porsi sendiri?” ujarku merasakan sedikit tidak adil dengan saran yang oppa berikan.

 

“Yasudah, nanti jika Hyunie ingin lagi, Hyunie bisa ambil ice cream cone milik oppa” jelasnya sambil tersenyum lalu mengacak rambutku pelan, pekikan ringan terluncur begitu saja dari bibir kecilku. Ya, saat itu aku memang sangat senang saat akhirnya oppa mau membagiku jatah lebih meskipun ice cream miliknya tak jauh lebih banyak dari milikku, bahkan sedikit sekali ice cream yang oppa makan pada saat itu lagi-lagi ungkapan terima kasih sudah seharusnya terlontar untuknya.

Flashback off

 

“Terima kasih oppa” ucapku tanpa sadar sambil membalik ke halaman selanjutnya. Dan terpampang foto dimana aku bersama oppa saat bermain di rumahnya. Aku ingat saat itu kami hanya berduaan, karena eomma dan appanya oppa sedang pergi ke Jepang untuk mengurus pekerjaan. Oppa ditinggal sendiri di rumahnya tanpa ada pembantu ataupun saudara yang menemani. Yang aku tahu oppa hanya bilang, oppa itu laki-laki dan berarti oppa harus berani tak apa kalau harus ditinggal sendiri.

 

Flashback

“Hyunie, apa Hyunie bisa menggosok pakaian?” tanyanya saat kami tiba di rumahnya. Ya, sebelum aku ke rumah oppa, ia lebih dahulu menjemputku ke rumah untuk izin mengajakku bermain pada eomma. Sebenarnya jarak rumah kami hanya terhalang tiga rumah, tapi oppa tetap pada prinsipnya untuk selalu menjemputku dengan alasan meminta izin pada eommaku.

 

“Hyunie tidak pernah menggosok sebelumnya, eomma yang selalu melakukannya untuk Hyunie. Waeyo oppa?” jujurku sebelum akhirnya bertanya kenapa oppa bertanya seperti itu.

 

“Ini, oppa bisa mencuci. Tapi untuk menggosok, oppa tidak bisa Hyunie. Oppa pernah mencobanya sebelum akhirnya baju itu bolong hehe” ujarnya jujur memberitahu alasan mengapa ia bertanya seperti itu.

 

“Niatnya kalau Hyunie bisa oppa memintamu untuk menggosok baju sekolah oppa, baju sekolah saja. Karena tidak mungkin kalau kita ke sekolah dengan pakaian kusut. Iya tidak?” ucapnya meminta pendapat sedangkan aku hanya mengangguk mengiyakan sambil berpikir bagaimana caranya agar aku bisa membantunya.

 

“Meskipun Hyunie tidak pernah menggosok, Hyunie sering merlihat eomma menggosok. Mungkin Hyunie bisa bantu, setidaknya untuk percobaan saja mungkin hehe” ujarku sambil terkekeh dan bisa dilihat mata oppa berbinar layaknya tanda bahwa ia cukup senang kalau aku bisa membantunya untuk menggosok seragam yang ia perlukan.

 

“Kau serius Hyun? Sebelumnya oppa benar-benar meminta maaf kalau oppa lancang karena memintamu menggosok baju oppa. Maaf ya” ujarnya meminta maaf.

 

“Tidak apa-apa, Hyunie sudah cukup besar kok untuk menggosok. Hitung-hitung belajar agar bisa membantu eomma nanti” ucapku jujur, yaa pada saat itu niatku hanya satu belajar agar suatu saat aku bisa membantu eomma untuk menggosok.

 

“Jika Hyunie menggosok, kalau begitu biar oppa masakkan ramyeon ya? Jadi setelah Hyunie selesai menggosok Hyunie bisa menghilangkan lelah dengan makan” ujarnya sambil tersenyum yang setelahnya langsung bergegas menuju dapur setelah menyiapkan peralatan serta pakaian yang akan aku gosok nantinya.

 

Beberapa saat berlalu, aku sudah sibuk dengan seragam milik oppa sedangkan oppa sudah sibuk berkutat di dapur untuk makanan kami.

 

“Tadaa~ ramyeonnya sudah matang, Hyunie sudah selesai?” ucapnya saat ramen yang ia masak sudah siap untuk dihidangkan.

 

“Sebentar lagi, dan cha ,, selesai. Gosokan Hyunie rapih kan oppa?” ucapku meminta pendapat padanya dengan menunjukkan hasil kerjaku.

 

“Rapih Hyunie, itu sangat rapih untuk ukuran gosokan anak tingkat empat sepertimu. Kau pembelajar yang baik Hyunie” ucapnya tulus sambil tersenyum lalu membereskan seragamnya yang telah aku gosok dan peralatan menggosok yang sebelumnya aku gunakan.

 

“Saatnya makan! Astaga, oppa baru sadar. Kita seperti sudah berkeluarga ya, kau menggosok sedangkan oppa yang memasak” ujarnya sambil terkekeh sambil menyiapkan ramyeon untukku dan untuknya.

 

“Haha berkeluarga? Oppa ada-ada saja. Kajja, kita makan. Selamat makan” ucapku setelahnya.

Flashback off

 

Kalau mengingat momen itu, memang benar kami sudah layaknya seperti sebuah keluarga kecil. Aku yang menggosok dan oppa yang memasakkan makanan ckckck. Kalau di pikir-pikir ada-ada saja seolah-olah kami sedang mengikuti acara We Got Married yang memang di wajibkan untuk tinggal satu rumah, seperti yang aku bilang sebelumnya kalau orang tua oppa pada saat itu memang sedang berada di Jepang. Kenangan masa kecil yang cukup menyenangkan – gumamku pelan seraya membalikkan album foto kami ke halaman selanjutnya.

 

Di halaman itu, di beri tema ‘janji’. Haha kalian pasti penasaran dengan tema tersebut. Sedikit menggelitik namun itulah kenyataannya. Siap dengan flashback selanjutnya? Check this out.

 

Flashback

“Huh, hujannya sudah reda. Ayo oppa cepat kita harus sampai ke rumah sebelum hujan lagi” ucapku sambil berlari dengan tanganku yang  berusaha menutupi puncak kepalaku agar tak terkena rintikan hujan.

 

“Iya, iya. Pelan-pelan Hyunie. Nanti bajumu kotor kena cipratan air” ujarnya mengingatkanku untuk lebih hati-hati meskipun sedang terburu-buru sambil melangkahkan kakinya lebih lebar agar bisa segera bersebelahan.

 

Ya, saat itu kami seperti biasa sedang dalam perjalanan ke rumah setelah pulang dari les. Kali ini hanya ada aku dan oppa, Minsoo sedang demam karena di hari sebelumnya ia sempat kehujanan saat pulang dari sekolah.

 

“Hyunie, aku sebal dengan eomma dan appa yang sibuk dengan pekerjaannya” ucapnya membuka suara untuk sekedar bercurhat ria sebelum sampai ke rumahnya.

 

“Waeyo? Bukankan itu juga untuk kebaikan oppa juga” ucapku pelan sambil sesekali melangkah lebih lebar agar sepatuku tak masuk ke genangan air.

 

“Ya, oppa tahu itu semua untuk oppa nantinya. Tapi oppa sebal, kenapa kemarin saat oppa ingin meminta mainan baru, appa marah? Bukannya uang mereka juga untukku?” jelasnya memberitahu apa yang membuatnya bertanya seperti ini.

 

“Benar juga ya, kenapa bisa marah? Aku kurang paham oppa tentang masalah seperti itu, oppa kan biasanya banyak tahu” ujarku jujur. Tak aneh jika saat itu aku berkata seperti itu, bagaimanapun umurku masih jauh untuk berpikiran semacam itu, apalagi sejauh ini eomma dan appa selalu ada dan memberikan apapun yang aku butuhkan.

 

“Ah begitu, maaf untuk menanyakan hal rumit seperti itu padamu” ucapnya pelan sambil mengacak rambutku yang sedikit lepek karena rintikan hujan tadi sukses menembus helaian demi helaian rambut tebalku dan responku selalu sama,, ya aku hanya mengangguk pelan.

 

“Jadi, apa cita-citamu nanti jika sudah besar? Anhi, maksud oppa kalau nanti sudah punya aegi kau mau seperti apa?” lanjutnya bertanya.

 

“Eum, Hyunie? Oppa bertanya jika suatu saat nanti Hyunie jadi eomma?” tanyaku memastikan dan bisa dilihat oppa hanya mengangguk mengiyakan sambil menatapku sambil berjalan pelan.

 

“Hyunie tentu ingin jadi eomma yang baik. Seperti eomma yang bisa memberikan mainan pada aeginya, eomma yang sabar pada aeginya, yang seperti itu pokoknya. Hyunie ingin jadi eomma yang baik” jawabku jujur menatap awan sore kota Seoul yang nampak berawan namun tetap indah.

 

“Kalau oppa?” tanyaku balik menatapnya yang sedari tadi sibuk menatapku yang jauh lebih rendah tingginya daripadanya.

 

“Kalau oppa juga sama, tentu oppa ingin menjadi appa yang baik. Appa yang tidak marah pada aeginya, appa yang suka memberikan mainan baru. Ya seperti itu pokoknya” ujarnya menjawab pertanyaan tersebut sambil tersenyum.

 

“Oppa pencuri jawaban, itukan jawaban milik Hyunie. Kenapa sama?” ucapku sambil mengerucutkan bibir kecilku seolah tak terima dengan peng-copy-an jawaban milikku.

 

“Oppa tidak mencurinya, itu berarti jawaban kita sama. Hyunie ingin jadi eomma yang baik dan oppa ingin jadi appa yang baik. Ya, oppa janji akan menjadi appa yang baik. Kalau Hyunie?” tanyanya balik setelah menjelaskan kalau ia tidak mencuri apapun termasuk sebuah jawaban yang terlontar dari bibir kecilku.

 

“Ya tentu, Hyunie berjanji untuk menjadi eomma yang baik nanti” ujarku sebelum akhirnya mengakhiri tema pembicaraan kami pada saat itu.

Flashback off

 

“Ahahahaa *ups*” tawaku seketika pecah dan setelah sadar aku langsung membekap mulutku mengetahui kalau suaraku terlalu keras untuk menggambarkan betapa terhiburnya aku setelah mengingat momenku dulu dengan oppa.

 

“Oppa sebentar lagi memang akan menepati janjinya, oppa akan segera berkeluarga. Awas saja jika tidak menjadi appa yang baik, aku akan demo kepadanya karena mengingkari janji” ujarku pelan namun sarat akan ancaman pada orang yang saat ini jauh dari pandanganku, karena saat ini aku sedang berada di rumahku dan oppa mungkin sedang persiapan gladi bersih untuk acara pemberkatan besok.

 

Merasa kian penasaran dengan lembaran album selanjutnya, kini aku bawa jari lentikku untuk membuka lembaran selanjutnya. Tema pada lembaran tersebut bertuliskan ‘Chingu-ga joheun oppa (is a good brother)’, aku hanya terdiam mencoba mengingat momen apa yang terjadi pada saat itu.

 

Flashback

“Yak! Yunji-ya, Yunji-ya! Andwae! Kau tidak boleh mengatakannya!” teriak suaranya yang sudah sangat aku kenal, ya siapa lagi. Itu suara oppa yang berteriak berusaha mengejar langkah sepupu perempuannya yang berlari kearahku.

 

“Hosh~ hosh~ Hyun, kata namja cungkring ini – aduh, ish kau” ucap Yunji sambil terengah karena lelah berlalu lalu terpotong dengan serangan tutup mulut dari oppa.

 

“Jangan didengarkan Hyunie” ucap oppa sedikit lebih keras berusaha membekap bibir sepupunya sendiri.

 

“Ish, singkirkan tanganmu! Hyunie, kata namja cungkring ini yang tak lain adalah sepupuku, ia bilang kalau ia menyukaimu. Sudah aku sudah mengatakannya, ah begitu saja kok repot” ujar Yunji berusaha mengusap peluh yang menghampiri dahi putihnya terlihat mengomel pada sepupu laki-lakinya yang sudah pasrah menunggu responku akan pernyataan perasaannya yang disampaikan lewat sepupu perempuannya.

 

“Anhi, kita hanya berteman dengan baik. Ya oppa adalah teman yang baik” ujarku sambil tersenyum menatap oppa, tidak ada keterpaksaan saat mengatakan hal tersebut. Saat itu aku hanya anak yang sedang berada di tingkat lima sekolah dasar, dan tentu aku berkata tanpa kebohongan sedikitpun. Bahkan aku yakin oppa sendiri sadar dengan tatapan polos dari mataku yang berusaha mengatakan hal yang sesungguhnya.

 

“Ya, kita hanya berteman Yunji. Iya kan Hyunie?” ujarnya sambil mengacak rambutku setelahnya tersenyum bersama.

Flashback off

 

“Ya ampun, momen itu hehe. Bagaimanapun itu memang perasaanku saat itu oppa, maaf ya jika aku menyakitimu. Sangat tidak terlintas pemikiran kalau disitu kau jelas-jelas mengungkapkan perasaanmu” ujarku sambil membersihkan sedikit debu yang terdapat pada halaman tersebut sambil tersenyum.

 

“Ya, aku memang tidak peka. Tapi memang itu kenyataannya” lanjutku sambil terkekeh.

Setelahnya ada halaman dimana tertulis tema ‘Oppa’s Yeoja’. Yang aku ingat saat itu oppa sudah memasuki dunia baru masa sekolah menengah pertama, sedangkan aku pada saat itu masih duduk di tingkat lima. Dan sekilas aku ingat bagaimana oppa bercerita kalau oppa menjadi cassanova kelas yang menjadi incaran para sunbae. Oppa memang tampan, tidak aneh kalau oppa menjadi pemikat sunbae pada saat itu – gumamku pelan seraya mengingat lebih jauh mengenai kilasan momen pada saat itu.

 

Flashback

“Hyunie, main yuk ke rumah oppa. Oppa ingin bercerita” ajaknya setelah menemuiku ke rumah.

 

“Tunggu ya oppa, Hyunie izin dulu pada eomma” ujarku sebelum akhirnya berlari kedalam rumah dan izin untuk pergi bermain.

 

Setelah hari dimana oppa mengungkapkan perasaannya melalui sepupu perempuannya, semuanya tetap sama tidak ada yang berubah. Ya oppa masih sering menjemputku untuk bermain, kami masih sering berbagi cerita mengenai hewan peliharaan yang kami miliki, ya aku sangat beruntung kalau oppa memang menganggapku tetap menjadi sosok polos yang memang tidak berniat menyakiti hati siapapun termasuk hatinya.

 

Akhirnya sampai juga di teras rumahnya, duduk sambil bersandar pada dinding rumahnya. Menunggu idenya bagaimana kami menghabiskan waktu pada hari ini.

 

“Hyunie, oppa sudah punya pacar” ucapnya memulai cerita. Sedangkan aku hanya menatapnya berusaha menjadi pendengar yang baik.

 

“Iya? Namanya siapa? Pasti cantik ya?” tanyaku antusias, disini tidak ada unsur penutupan rasa sakit hati atau apalah, yang aku ingat pada saat itu aku memang ‘pure’ menanyakan perihal pacar barunya oppa.

 

“Ya seperti itu, biasa saja. Oppa tidak suka, dia yang mengajak oppa untuk menjadi pacarnya” ujarnya jujur sambil menatap kosong susunan papping block di teras halaman rumahnya sedangkan aku hanya manggut-manggut berusaha masuk ke pembahasan yang oppa bahas.

 

“Terus oppa? Nama? Siapa namanya? Dan tinggal dimana dia?” tanyaku lagi semakin penasaran dengan yeojanya oppa yang tentu sangat pemberani menyatakan perasaannya, meskipun aku masih di tingkat sekolah dasar kurang lebihnya aku bisa paham kalau biasanya namja-lah yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu.

 

“Namanya Sunhye, Choi Sunhye. Dia tinggal di kawasan elite Gangnam” jelasnya menjawab pertanyaan dariku mengenai sosok pacarnya.

 

“Wah Sunhye unnie pasti orang kaya ya? Seharusnya oppa senang” ujarku polos. Ya pada saat itu yang aku pikirkan ya hanya jika punya banyak uang dan bisa membeli banyak barang tentu itu akan menjadi hal yang menyenangkan bukan? Termasuk memiliki pacar yang kaya, rasa senang pun seharusnya ada.

 

“Iya, kemarin baru saja oppa di belikan kaos setelah jalan bersamanya. Ya tidak bisa di bilang kencan juga, karena kami pergi bersama teman-temannya” jelasnya membeberkan kebaikan yeoja yang ku ketahui sebagai pacarnya, di rasa tidak ada respon lain selain mengangguk paham aku hanya mengiyakan pernyataan oppa.

 

“Kau, ikut oppa ya nanti untuk menemuinya. Kita main bersama” ajak oppa sambil menunggu jawaban dariku.

 

“Tentu, bermain bersama Sunhye unnie dan oppa tentu menyenangkan. Toh Sunhye unnie orang baik kan?” tanyaku pada akhirnya sambil menatap wajah oppa yang kian berubah, ya oppa sudah semakin lebih dewasa dari tahun-tahun sebelumnya.

 

“Ya, tentu. Kau bisa bilang kalau kau itu adik oppa, jadi pasti ia tidak akan macam-macam dengan Hyunie-ku hehe” ujarnya sambil terkekeh sebelum akhirnya aku pun melakukan hal yang sama untuk sama-sama terkekehnya.

Flashback off

 

“Ck. Oppa, kau sangat lucu yang benar saja kau mengajakku untuk menemani kalian berkencan” ujarku terkekeh.

 

“Untung pada saat itu hujan, jadi aku tidak perlu mengganggu acara kalian” ujarku sebelum akhirnya menutup halaman terakhir dari album kenangan kecilku.

 

Aku dan oppa terpisah karena rumahku pindah dan setelahnya aku harus bersekolah di asrama khusus putri, oppa sesekali masih menanyakanku saat bertemu dengan eomma. Sedangkan aku memang tak pernah kemana-mana dan benar-benar membuat oppa kehilangan jejak mengenai keberadaanku, kecuali jika oppa bertemu dengan eommaku.

 

Pernah sesekali oppa main ke rumah baruku, namun oppa tidak menemukan keberadaanku karena pada saat itu aku tinggal di asrama untuk menuntut ilmu yang hanya pulang dua kali dalam setahun. Dan kami akan bertemu lagi esok hari saat aku datang ke acara pemberkatanmu.

 

Rasanya memang sudah sangat lama kalau kita tidak bertemu lagi, dulu kami sempat bertemu saat aku ada di tingkat sepuluh sekolah menengah atas dan disitu oppa bilang kalau aku berubah menjadi bakpao. Huh, aku tidak terima, tapi oppa kau jangan kaget dengan perubahanku saat ini.

 

Sekarang aku sudah bekerja sebagai seorang penerjemah di kantor majalah elite, lihat kami sudah sangat lama untuk tak saling bertegor sapa dalam pembicaraan langsung, ya kami tidak pernah bertemu. Soal perasaan, jika ada yang bertanya apa kau sedih Hyunie kalau oppamu menikah? Jawabannya tentu big NO! Aku sangat bahagia dengan undangan yang datang kepadaku tiga hari lalu. Prinsipku, saat lelaki dan perempuan bersahabat, memang bisa jadi tidak ada persahabatan yang murni di dalamnya, namun ada ikatan kekeluargaan yang murni terjadi di dalamnya. Oppa, ya .. kau memang oppaku.

 

“Sayang! Astaga, oppa sudah menunggumu sampai setengah jam di bawah” ucap Kyuhyun oppa sedikit mengomel, ya .. namanya Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Usianya terpaut tiga tahun diatasku, dan jika saat ini aku masih bekerja sebagai penerjemah di kantor majalah ternama, beda lagi dengan tuan Cho ini, ia sudah memimpin perusahaan yang telah appanya rintis sejak dulu. Ya, selain oppa yang aku ceritakan tadi aku memiliki oppa lain yang tak lain adalah namjaku yang sudah mengisi relung hatiku selama tiga tahun belakangan ini.

 

“Maaf, aku terbawa cerita saat melihat ini” ujarku sedikit terkejut sambil tersenyum tak berdosa menatap namja bermarga Cho di hadapanku kini yang mengenakan kemeja biru yang menempel pas pada tubuhnya sambil menunjukkan album kenanganku bersama Yonghwa oppa, ya sosok yang sedari tadi aku ceritakan yang tak lain adalah sahabat kecilku adalah Yonghwa oppa yang lusa akan mengadakan acara pernikahannya.

 

“Aish, kau senang sekali sih melihat album itu. Oppa sendiri bergidig ngeri setelah melihat wajahmu di album itu setahun yang lalu” ujar Kyuhyun oppa sambil menjawil hidungku pelan, ya aku tidak pernah menutupi apapun yang memang menjadi masa laluku pada pria di hadapanku ini, apalagi setelah melihat tidak ada yang perlu di risaukan untuk membagi sebuah pengalaman masa lalu.

 

“Yak! Waeyo, aku tetap cantik kok disini” ujarku membela diri sambil membuka ulang halaman albumku memastikan perkataan namja di hadapanku ini hanya bualan saja, enak sekali ia mengatakan kalau yeojanya menakutkan.

 

“Sudah sudah sudah, mana sini albumnya. Kalau berlama-lama dengan album itu kapan kau akan membeli kado untuk pernikahan oppamu itu, princess?” tanya Kyuhyun setelah sukses merebut album yang aku pegang dan bisa aku lihat kalau Kyuhyun oppa sudah bersedekap sambil memegang album kecil tersebut.

 

“Iya iya, lagipula akukan meminta agar oppa datang pukul 6. Ini kan baru pukul 4” ucapku membela diri tak lupa dengan kerucutan di bibirku sudah pasti terpampang saat ini. Dapatku lihat Kyuhyun oppa meletakkan album yang sempat ia rebut di rak buku milikku. Setelahnya aku bisa merasakan kalau harum wangi maskulin yang sangat dekat dengan wajahku, ya tentu harumnya dekat karena saat ini aku bisa merasakan kalau pria di hadapanku tadi sudah memelukku hangat saat ini. Sehingga bisa kurasakan wajahku menabrak dadanya bidangnya pelan yang berlapiskan kemeja.

 

“Apa tidak boleh kalau seorang pangeran merindukan princessnya, eoh?” ujar Kyuhyun oppa sambil ia usap punggungku pelan, selain mengusap punggung bisa ku rasakan namja yang memelukku ini sudah menghirup harum rambutku pelan.

 

“Hei cantik, tidak membalas pelukanku eoh?” tanyanya lagi setelah sebelumnya mejauhkan jarak kami dengan memegang pundakku dan menatap wajahku seolah-olah ia sangat terkejut karena aku tak membalas pelukkannya kali ini.

 

“Iya, aku tidak membalasnya” jawabku ketus pada akhirnya mengundang kekehan halus dari tawanya.

 

“Astaga Seo Joohyun, kau marah karena wajahmu di album fotomu itu eoh? Itu memang wajahmu sayang” ujar Kyuhyun oppa malah semakin meledekku, okay fix .. berniat meminta pernyataan manis darinya merupakan mimpi belaka, ia terlalu jujur untuk ukuran seorang pria yang seharusnya menyanjung tinggi wanitanya dengan gombalan-gombalan khas orang yang saling mencinta dan yaa sudah bisa di pastikan kerucutan di bibirku semakin maju saja saat ini.

 

“Meskipun itu wajahmu, aku tetap mencintaimu sayang. Tenang saja, pangeran tampanmu ini akan tetap bersama princess cantik ini terus. Selalu” ujar Kyuhyun oppa setelah menghentikan tawanya dan membawa tubuhku mendekat lagi untuk sekedar di peluknya.

 

“Saranghaeyo Seo Joohyun ..” ujarnya tulus untuk yang kesekian kalinya, ya .. untuk edisi oppaku yang ini ia memang tak pernah bosan untuk mengucapkan ungkapan cintanya kepadaku. Bahkan untuk takaran orang meminum obat yang seharusnya tiga kali sehari, ungkapan cinta Kyuhyun oppaku ini sudah melebihi dosis. Tapi aku suka.

 

“Nado Cho Kyuhyun oppa” balasku sambil membalas pelukan ditubuhnya.

 

“Awal tahun depan, kita menyusul Yonghwa oppamu itu ya” ajak Kyuhyun spontan sembari menatap wajahku hangat, lengkap dengan senyumnya yang sangat memikat masih dengan tangannya yang bertengger manis di pinggangku.

 

“Jadi, oppa melamarku eoh?” tanyaku menatap balik pria yang memang sudah menahan hatiku untuk tak membiarkan siapapun masuk kecuali dirinya. Dapat kurasakan pria di hadapanku mendekatkan wajahnya kian mengikis jarak diantara kami,  dan yang aku lakukan? Tentu hanya bisa menutup mata menyambut tautan yang akan ia buat melalui bibir kami.

 

Chup ,,

 

“Perlukah bertanya soal itu? Kalau pada akhirnya kau pun akan bilang ‘I do’, heum?” tanya Kyuhyun oppa sembari ia usap bibirku pelan saat tautan kami terlepas.

 

“Tentuuu, mana bisa begitu. Datangi appa dan eommaku mintalah izin untuk meminangku pada mereka” tegasku menatap pria jahil di hadapanku yang masih memusuhi jarak jauh diantara kami, sehingga bisa kita tahu kalau jarak kami masihlah sangat berdekatan.

 

“Ingat, awal tahun depan ya? Jangan lupa! Oppa akan kembali lagi dengan status sebagai suamimu” ucapnya tak kalah tegas namun senyum lembut tak surut dari wajah putihnya.

 

“Ingat! Aku tunggu ya!” jawabku tak kalah tegas menyahuti pernyataan pria bermarga Cho ini. Astaga oppaa~ aku padamu, aku mencintaimu oppa – ucapku dalam hati.

 

“Nado Hyunie, nado” jawab Kyuhyun oppa sambil memelukku kembali.

 

“Eh” kagetku karena oppa seperti telah menjawab ucapan cinta yang aku ucapkan di dalam hati. Ya, apapun itu, berarti aku harus bersyukur karena oppaku yang satu ini memang sangat peka meski itu hanya ucapan cinta lewat hati.

 

FIN

 

Barangkali berkenan untuk meninggalkan like atau komentar?

Terima kasih ^^

Dan sampai ketemu di kisah yang lainnya~~~ *fly kiss*

Have a nice sleep and good night,

J.A ^^

Advertisements

Author:

Chwang Wifey 😘😘

18 thoughts on “Memoir About Me and Oppa

  1. Jiah…..bca nya udh deg2an bgt tak kirain yg shbt kcil yg dicritain seonni tu kyuppa dan kyuppa nya nikah…aigoo…eyke salh trnyta…wakwaw…nice story..smoga ada next nya…yg crtanya seokyu ufh bikah gt…hiiii….kode keras…

  2. D awal cerita gw emg mikir oppa masa kecilnya itu kyu.tp d tengah lsg tau itu yonghwa *feeling si.tp bnr kn ga mungkin seo ga ma kyu.bs d lempar batu sm readers authornya.kkkk

  3. Jadi, sahabatnya seo eonni itu yong oppa, ya…. aku pikir kyu oppa…. udah deg2an aku bacanya
    Bagus lo ceritanya, apalagi pas akhirnya hehehe

    Ini Lala eonni kpn comeback????? Udah aku tungguin lo…
    KEEP WRITING AUTHOR

  4. Aku kira sahabat kecil seo itu kyu ternyata yonghwa, pas baca sahabatnya mau nikah kirain seokyu disini ga bersatu. . . .syukurlh klo yonghwa yg jd sahabat kecil seo jd seokyu ttp bersatu. . . .bagus dan menarik eon ceritanya aku suka, ditunggu series expensive girl nya Lala eonni

  5. Dikit revisi siiihh dikiiiiit bangeeet… masih ada beberapa typo ya~ but as long as i read, i was enjoy this fanfict^^
    Semuanya natural~ bener2 bisa feel-it gimana gitu kejadian real nya.
    So, keep waiting your another story~~ fighting! 😀

  6. Awalnya udh males aja nih pas baca kalo kyu bukan maincast.eeeeh ga tau nya endingnya tetep seokyu jg,.legaaaa bgt aku nya,ditunggu ff lainnya ya kak

  7. Manisnya…….seneng rasanya klo punya pacar yang modelnya kyak kyu.paket komplit dah…….di tunggu karya2 yang lainnya Chingu…….

  8. hehehehe
    sempat ngira oppa yang diceritain seo itu kyuhyun taunya yonghwa
    hehehehe
    meskipun momen seokyu nya gak banyak tapi tetap sweet…
    ditunggu cerita lainnya

  9. sequel sangat dibutuhkannn. pertamanya aku udh kira klo itu bakal yonghwa soalnya masa udh mau nikah aja hahahha. sequel thorrrr sampai mrk menikah hahahha

  10. Gimana ya punya sahabat yang berbeda jenis kelamin saat sudah besar. Aku juga punya teman seperjuanganku dulu. Kami bahkan sangat lengket. Tapi sekarang, ntahlah. Mungkin karena sama2 udah besar dan aku udh pindah keluar kota. Wkwkwk malah jadi curcol >_< soalnya ff nya tentang persahabatan sih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s